Penulis : maraneka

PERTALIAN ANTARA MUSIK DAN PUISI

 Musik merupakan suatu hal yang biasa ditemui dalam kehidupan manusia. Hal tersebut seringkali digunakan untuk penyaluran ekspresi, media hiburan dan menjadi minat banyak orang untuk mendengarnya. Musik seolah tidak dapat lepas dari kehidupan manusia dan hampir setiap peradaban memiliki identitas musiknya masing-masing. Berbagai macam jenis musik telah diciptakan untuk dinikmati oleh para pendengarnya, namun disela-sela eksistensi musik yang begitu besar, muncul istilah musikalisasi puisi.

 Bentuk awal dari sebuah musikalisasi puisi atau yang biasa disebut ‘’muspus’’ ini merupakan suatu naskah puisi, yang kemudian eksistensinya muncul melalui lantunan nada para arranger muspus. Musikalisasi puisi mungkin masih jarang terdengar di khalayak umum, hal ini bisa jadi disebabkan oleh perlunya pemaknaan terhadap suatu puisi itu sendiri sebelum bisa benar-benar menikmati musiknya. Sebenarnya tidak jelas dimana musikalisasi puisi sebagai suatu karya seni berdiri, apakah di sisi musik, sastra atau bahkan teater, mengingat bahwa komunitas teater-lah yang biasanya memainkan musikalisasi puisi ini. Namun singkatnya, musikalisasi puisi adalah suatu pertemuan antara musik dan puisi menjadi suatu kesatuan.

PROSES ARRANSEMEN MENUJU MUSIKALISASI PUISI

Perlu diingatkan bahwa arransemen musikalisasi puisi mengalami pergeseran makna dengan proses arransemen pada musik umumnya. Hal ini dikarenakan proses pembuatan musikalisasi puisi tidak terdapat penataan nada kembali, melainkan tentang bagaimana meletakkan suatu nada di antara kata-kata dalam sebuah puisi. Langkah awal dalam pembuatan muspus tentu saja memilih puisi yang akan diarransemen, namun terkadang tidak semua puisi ‘meminta’ untuk diarransemen, mereka merupakan puisi yang lebih bersahaja dalam pembacaan saja, sedangkan sebagian seolah ‘memanggil’ untuk diberi nada-nada.

Selanjutnya adalah melakukan pemaknaan puisi, di mana setelah memilih puisi seorang arranger mestinya melakukan katarsis emosi saat mulai membayangkan nada-nada di kepalanya sebelum meluapkannya menjadi musik, proses ini merupakan hal yang dapat dikatakan lebih sukar dibandingkan yang lainnya, karena tentu saja kita tidak ingin membawakan puisi yang bertema kesedihan dengan riang gembira, meskipun dalam beberapa kasus mungkin ada yang sukses melakukannya. Melakukan pemahaman terhadap naskah puisi sedikit tidaknya mampu memahami pesan, tanda dan makna yang ada dalam suatu puisi. Seperti contoh dalam kalimat; ‘’di mana kau tak akan membiarkan malam yang ingin membunuhku’’, dari kalimat tersebut terdapat pesan yang tentunya mesti dipahami, siapa atau apa yang akan membunuh, apakah itu manusia, hantu atau malam itu sendiri. Kemudian tanda apa yang coba disampaikan oleh penulis puisi, apakah peringatan atau sebuah permintaan tolong. Terkahir adalah memaknai secara utuh, seperti kalimat tersebut menggambarkan orang yang hendak dibunuh pada saat malam hari, atau kalimat tersebut menggambarkan ia merasa aman karena ada yang melindunginya dari kematian di malam hari. Pemakaan tidaklah bersifat baku, tidak harus seperti yang di atas, melainkan menyesuaikan kondisi psikologis arranger.

Setelah usai dengan naskah puisi, kini waktunya mencoba meletakkan nada-nada di antara puisi tersebut. Ini disesuaikan dengan kreativitas masing-masing, ada yang mengatakan bahwa tema kesedihan identik dengan nada minor dan tema kebahagiaan identik dengan nada mayor, entah ada yang setuju atau tidak, namun dalam tulisan ini dengan lantang menyatakan tidak sesederhana itu, sobat. Beberapa arranger mungkin mencoba menempelkan nada yang sudah pernah ia buat atau sudah sebelumnya, hal tersebut tidak dapat disalahkan, namun jauh dari kata benar. Selanjutnya adalah proses latihan, bersama dengan vokal, pemain musik dan terkadang ada pembaca puisi, pada masa ini juga mungkin banyak terjadi perubahan namun tidak signifikan, karena banyak kemungkinan masuknya melodi baru, alat musik baru, pemecahan vokal maupun sekedar haming. Apabila semua sudah mantap dan dirasa cukup, maka waktunya untuk mementaskan!

KESEMENAAN STRUKTUR MUSIKALISASI PUISI

 Beberapa tokoh mungkin mencoba untuk memberi struktur pada musikalisasi puisi, namun pada kenyataannya sangat sulit untuk menentukan bagaimana bentuk pakem dari musikalisasi puisi. Hal ini dikarenakan setiap arranger muspus memiliki imajinasinya masing-masing, kata per kata dari setiap puisi bisa saja dikonotasikan berbeda oleh mereka. Mengingat para arranger pun lahir dari berbagai genre musik, seperti contoh puisi Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri, ada yang membawakan dengan lirih, ada yang sedikit memberi kesan horor, ada yang menggebu, bahkan mungkin ada yang menggabungkan semuanya.

Setiap musik biasanya memiliki ‘’racun’’ di telinga pendengarnya, dan ‘’racun’’ tersebut paling umum dijumpai dalam chorus/reff sebuah lagu, lantas bagaimana dengan musikalisasi puisi? Jawabannya adalah tidak menentu. Hal ini kembali tergantung oleh para arranger dimana ia mencapai ‘’ejakulasi’’ ketika proses pemaknaan puisi dilakukan. Terdemikian dengan aliran musik yang dipakai, bisa jadi rock, jazz, bahkan pop meskipun aliran yang satu ini menjadi anak tiri di musikalisasi puisi. Mungkin lebih tepat apabila dikatakan sebagai musik folk, karena tidak begitu mengikuti aturan dari struktur musik, namun ironisnya musik folk dalam konotasi musik rakyat tentu perlu dipertanyakan kembali dalam musikalisasi puisi, apakah masyarakat benar-benar mendengarkan musik yang satu ini?

Segala isi tulisan, gambar serta video berkaitan dengan hak cipta yang termuat di sini merupakan tanggung jawab penulis dan bukan merupakan tanggung jawab artsonica.club. Artikel ini semata-mata di muat untuk "Lomba Tulis Artikel" yang di adakan oleh artsonica.club

Leave a Reply

Komunitas Musik & Audio Indonesia
YOUTUBETOKOPEDIA
LOGINDAFTAR
© 2020 - ArtSonica - All Rights Reserved
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram